Selasa, September 29, 2026
Beranda KalamPemerintahan Becak Listrik Hadir di Garut, Wakil Bupati: Jadi Kail Baru untuk Rezeki...

Becak Listrik Hadir di Garut, Wakil Bupati: Jadi Kail Baru untuk Rezeki Pengayuh

0
73

GARUT, KalamPriangan.com – Becak di Kabupaten Garut memasuki babak baru. Kendaraan yang selama ini identik dengan tenaga kayuhan kini mulai bertransformasi menggunakan tenaga listrik.

Kehadiran becak listrik (Batrik) diharapkan bukan sekadar membuat aktivitas para pengayuh menjadi lebih ringan, tetapi juga membuka peluang baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali minat warga menggunakan becak sebagai salah satu transportasi lokal.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Garut Putri Karlina usai memberikan becak listrik secara simbolis di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Selasa (29/9/2026).

Putri Karlina yang turut mencoba langsung Batrik menilai kendaraan tersebut memberikan kenyamanan lebih dibandingkan becak konvensional. Salah satunya dari sisi ruang penumpang yang dinilai lebih lega.

“Kalau biasanya becak untuk dua orang terasa sempit, ini malah lega. Kita kan ibu-ibu, badannya agak besar, jadi ini solusi banget karena lebih lega,” ujar Putri.

Selain lebih lapang, perjalanan menggunakan becak listrik juga dirasakan lebih halus. Bahkan, keberadaan tenaga listrik dinilai dapat membantu ketika kendaraan melewati jalan menanjak.

“Di jalannya lembut, halus, tidak terasa. Kalau biasanya becak terasa digosek atau bagaimana, ini jauh lebih nyaman. Kalau tanjakan juga ada listrik,” katanya.

Bukan Sekadar Becak, Tapi Diharapkan Jadi Jalan Rezeki

Putri mengatakan, kehadiran becak listrik di Garut diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi para pengayuh.

Menurutnya, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk menarik kembali minat masyarakat menggunakan becak.

“Semoga menambah pemasukan, semoga menambah minat masyarakat Garut untuk kembali menggunakan becak,” ungkapnya.

Tidak hanya untuk transportasi masyarakat lokal, pemanfaatan Batrik juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan dalam mendukung sektor pariwisata.

Wisatawan yang datang ke Garut tanpa membawa kendaraan pribadi dapat memanfaatkan becak listrik untuk berkeliling dan menikmati berbagai destinasi maupun kawasan perkotaan.

“Selain sektor lokal, bisa diarahkan ke sektor pariwisata. Turis-turis yang tidak membawa kendaraan bisa naik becak juga,” ujarnya.

Putri pun menggambarkan becak listrik sebagai “kail” yang diharapkan dapat membuka peluang rezeki baru bagi masyarakat.

“Intinya, ini sebagai kail, sebagai umpan untuk rezeki masyarakat yang ada di Kabupaten Garut,” katanya.

Jarak Tempuh Baterai Maksimal 30 Kilometer

Sementara itu, Brigjen TNI Purnawirawan Sudarwo Aris Nuurcahyo, selaku Direktur Operasional Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional, menjelaskan bahwa becak listrik memiliki kemampuan jarak tempuh baterai maksimal sekitar 30 kilometer.

Karena itu, para pengayuh diminta memperhatikan indikator daya baterai dan segera melakukan pengisian ulang apabila daya sudah menipis.

“Kalau sudah tinggal satu kotak, memang harus di-charge. Jangan sampai dipaksakan dan akhirnya baterainya habis di tengah jalan,” jelas Sudarwo.

Kuota Garut Masih Berpeluang Bertambah

Terkait jumlah penerima bantuan di Kabupaten Garut, yang sebelumnya disebut mencapai sekitar 300 unit namun pada tahap awal terealisasi sebanyak 260 unit, Sudarwo menjelaskan bahwa penyaluran tersebut masih dilakukan secara bertahap.

Program becak listrik tersebut merupakan bagian dari penyaluran secara nasional yang dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

“Ini tahapnya masih berjalan. Kalau masih ada kekurangan, nantinya tetap didukung lagi sesuai pendataan dari tim atau koordinator,” jelasnya.

Dengan demikian, para pengayuh becak yang belum mendapatkan bantuan masih berpeluang masuk dalam pendataan pada tahap berikutnya sesuai mekanisme yang ditetapkan.

Pengayuh Senior Jadi Perhatian

Program tersebut juga memberikan perhatian terhadap para pengayuh becak yang telah berusia lanjut.

Sudarwo menyebut batas usia minimal penerima sekitar 55 tahun. Namun, perhatian lebih diarahkan kepada pengayuh senior yang selama ini masih mengandalkan tenaga fisik untuk mencari nafkah.

Dalam penyaluran tersebut bahkan terdapat penerima yang berusia 70 hingga 80 tahun.

“Beliau sangat prihatin melihat yang usianya sudah 70, bahkan ada yang 80 tahun. Yang diharapkan menerima memang yang lebih tua atau senior dulu,” jelasnya.

Batrik Menjadi Hak Milik Penerima

Pertanyaan mengenai status kepemilikan becak listrik juga mendapat penjelasan. Batrik yang diberikan melalui program tersebut bukan sekadar kendaraan pinjaman.

Becak listrik menjadi hak milik penerima dan diberikan secara gratis.

“Ini hak milik. Semua pemberian ini milik penerima langsung, gratis,” tegas Sudarwo.

Dengan status tersebut, Batrik diharapkan dapat menjadi aset produktif yang membantu para pengayuh meningkatkan pendapatan dan menopang kebutuhan keluarga.

Suku Cadang dan Perbaikan Disiapkan

Untuk menjaga keberlangsungan penggunaan kendaraan, pihak penyelenggara menyebut telah menjalin kerja sama dengan produsen kendaraan listrik.

Apabila terjadi kerusakan, penerima dapat membawa kendaraan ke layanan yang telah disiapkan.

“Suku cadangnya kita sudah bekerja sama dengan produsen. Nantinya kalau ada kerusakan bisa dibawa untuk diperbaiki dan perbaikannya gratis,” katanya.

Kehadiran becak listrik di Garut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai perubahan dari tenaga kayuh menjadi tenaga listrik.

Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali transportasi becak, memperluas peluang ekonomi masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi sektor pariwisata Garut.

Kini, harapannya sederhana: Batrik bukan hanya membuat becak lebih ringan dikayuh, tetapi juga membuat jalan rezeki para pengayuh semakin terbuka.(Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini